Sabtu, 10 November 2012

Ruang Henti Khusus Bagi Si RODA DUA

"Sepertinya sudah banyak pengguna sepeda motor yang lupa membawa otaknya saat berkendara."

     Ungkapan terpampang di wall seorang pengguna jejaring sosial Facebook.Apa boleh buat?.Keadaan semakin runyam,karena pengguna kendaraan roda dua ini semakin bertambah setiap harinya.Sayang,pertumbuhan tersebut tak diiringi peningkatan kepatuhan terhadap rambu dan marka jalan..Data dari kepolisian menyebutkan bahwa angka pelanggaran garis henti merupakan jenis pelanggran lalu lintas yang paling tertinggi.

         Pakai teori turbulensi
    Pada 2007,Muhammad Idris,peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Balitbang Kementrian PU, Tergerak untuk ikut memecahkan persoalan di jalan raya itu. Idris yang kala itu tengah menempuh studi pascasarjana Jurusan Transportasi Institut Teknologi Bandung, Sehari-hari juga memakai sepeda motor.Ia merasakan sendiri perebutan ruang di persimpangan jalan dengan sesama pengguna sepeda motor maupun kendaraan yang lainnya.
   Dalam benak Idris muncul ide untuk membuat Ruang Henti Khusus (RHK) untuk sepeda motor. Sengaja ia memilih sepeda motor karena dalam pengamatannya moda ini menjadi kendaraan dengan populasi tertinggi di setiap persimpangan. Ide tersebut akan diwujudkan karena kebetulan ia sedang menyusun tesis untuk kelulusan gelar pascasarjana.
   "Saya yakin RHK ini sesuatu yang benar dan akan dimanfaatkan bagi orang banyak," ujar pria yang kini Kepala Seksi Litbang Balai Lalu Lintas PUSJATAN.
   Menggunakan teori Traffic Energineering,"konflik" dapat dihindari dengan membuat sistem homogen, baik homogen pergerakan maupun homogen kecepatan. Caranya adalah memisahkan kendaraan berdasarkan jenisnya ketika lampu merah menyala merah : kendaraan beroda 2 dan beroda 4 atau lebih. Kontretnya, kendaraan roda dua di beri tempat  secara khusus di depan kendaraan roda empat atau lebih.

        Diadaptasi di kota lain
   Penelitian Idris tentang RHK awalnya sempat diragukan oleh dosen pembimbingnya. Selama 7 hari nonstop dalam kurun waktu dua minggu, Idris melakukan pengamatan awal di persimpangan Buah Batu,Bandung. Lalu ia mulai melakukan uji coba dengan membuat marka RHK dengan cat. Banyak pengendara bertanya-tanya namun sengaja dia biarkan untuk membuat rasa penasaran. Sebuah koran lokal bahkan sampai memuatnya sebagai berita.
    Beberapa hari berlangsung,masih ada penguna jalan yang ragu. Untuk melengkapi upayanya Idris membuat brosur,membagikan pamflet, bahkan berdiri di tempat itu sambil berteriak dengan pengeras suara mengajak para pengendara memanfaatkan marka RHK buatannya. Ia juga memasang spanduk di tempat itu. Hasil analisinya :marka RHK menurunkan konflik lalu lintas hingga 72% dan arus lalu lintas 11-12% lebih lancar.
    Lama-kelamaan RHK ciptaan Idris mendapat sambutan dari masyarakat. "Karena dalam spanduk saya cantumkan alamat email, banyak masukan dari masyarakat. Bahkan ada kritik yang menyebutkan bahwa pengguna mobil merasa tidak di perlakukan dengan adil karena di taruh di belakang padahal ia sama-sama membayar pajak," tutur Idris sambil tertawa kecil.
    Penelitian alot selama satu tahun tersebut akhirnya membuat para dosen pembimbing dan penguji terkesan. Bahkan atas dukungan Dinas Perhubungan dan Kepolisian Daerah Jawa Barat, juga instansi tempat Idris berkarir, RHK menjadi salah satu studi penelitian resmi. Kini RHK tak hanya ada di Bandung, tapi juga di Riau, Yogyakarta, dan Bali.


Kata Mutiara
"Semua pemimpin besar memiliki karakteristik yang sama, yakni keberaniannya menghadapi kecemasan utama yang dirasakan rakyatnya pada masanya. Inilah yang menjadi esensi utama kepemimpinan."(John Kenneth Galbraith)

1 komentar: